Langsung ke konten utama

Manusia Diciptakan untuk menjaga Kedamaian dan Keselamatan

Foto : Doc.Prib P.Y /KM

Oleh, Petrus Yatipai


Artikel,(WN) --- Penciptaan Manusia Pertama, Perspektif Iman Kristen (Alkitab), Hukum Karma jata di Akhirat, Manusia di Ciptakan Agar menjaga Kedamaian dan keselamatan. Penjelasan singkat, Penciptaan Manusia Pertama di Taman Firdaus, dari pandangan Tradisi Iman Umat Agama Kristen berdasarkan Alkitab. Pada awal mulanya, Manusia  pertama (Adam), diciptakan oleh Allah dari Tanah, sesuai Gambar dan Citeranya.  Ketika itu,  Allah memandang bahwa, Adam menjalani kehidupan di Taman Firdaus itu, seorang diri, akhirnya, Allah mengambil cara, dan dia membuat Manusia pertama, Tidur nyenyak. Sementara ia tertidur, Allah mencabut Tulang Rusuk darinya, kemudian terciptalah Manusia kedua (Hawa). Pada saat itu juga, Manusia kedua itu berkata, “Inilah dia, Tulang dari tulangku, dan Daging dari Daging”

Setelah semua kekayaan di Langit dan Bumi dijadikan oleh kuasa Allah, Ia berkata kepada kedua manusia itu, “Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah Bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas Ikan-ikan di Laut dan Burung-burung di Udara dan atas segala Binatang yang merayap di Bumi.” (Kej: 1:28).


Tujuan dihadirkannya, Manusia Pertama Adam dan Hawa di Taman Eden alias Firdaus, untuk saling menjaga, memelihara dan menikmati kekayaan yang tersedia itu. Setelah beberapa hari, menjalani kehidupannya Di Taman itu, Ular menggoda Si perempuan, akhirnya Hawa memetik Buah terlarang, “Pohon pengetahuan tentang baik dan yang jahat,” dan dimakannya. Setelah peristiwa itu berlalu, Allah mengusir mereka dari tempat itu, dan jatuh kedalam penderitaan. Allah tidak pernah berfirman, Manusia diciptakan untuk saling menghabisi nyawa, Menindas, dan Menjajah. Ia menginginkan supaya supaya, Umatnya itu harus, saling menghormati, saling mengakui, dan melestarikan.


10 Perintah Allah, poin ke  5, “Jangan Membunuh”


Kita melihat kembali, 10 (sepuluh) Firman Allah, pada perintah kelima (5) berbunyi, “Jangan Membunuh.” Jika direnungkan kembali, isi dan maksud Tuhan pada Nomor kelima dari sepuluh Perintah itu, kepada kita Umat Manusia bahwa, Manusia itu punya nilai yang sama, kedudukan yang sama serta dejarad yang sama pula,  dimata Sang Pencipta, dari pada makluk-makluk Hidup lain yang diciptakannya.


Ia memberikan Tugas dan tanggung yang besar kepada kita Manusia supaya, saling menjaga, memelihara, tanpa ada, Diskriminasi, Pembunuhan, Penindasan, dan tindahkan-tindahkan kekerasan lainnya. Manusia hidup di Dunia ini, hanya sedetik, artinya, tidak abadi, tidak selamanya,hanya bersifat momental.


Penegakkan Hukum Dunia Berdasarkan Aturan (UU)


Kehidupan ini memang, dipagari dengan Aturan Dunia yang dibuat oleh Manusia itu sendiri. Kita telah ketahui bahwa, Aturan dibuat untuk ditegakkan, supaya dalam kehidupan bermasyarakatnya, Harmonis, damai, sejatera dan tenteram. Itulah target-target yang diharuskan dan diwujudkan serta dicapai melalui tindahkan nyata berdasarkan Ideologinya.


Kita mencoba, masuk ke Dunia Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) BAB XIX tentang “KEJAHATAN TERHADAP NYAWA” pada Pasal, 338 yang berbunyi, “Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun”


Berdasarkan KUHP pasal 338 diatas, Penulis ingin menghusut tentang Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat oleh Gabungan TNI/POLRI dengan penembakan serentak, di Lapangan terbuka, Karel Gobai Paniai-Enarotali Papua, terhadap Masyarakat Sipil yang akhirnya, 4 Orang Pelajar SMA dilenyapkan tanpa ada Kata Salam kepada keluarganya, yang pergi hanya begitu saja, juga tidak dikehendaki oleh Sang Penciptanya. Pelaku-peaku penembakan Paniai berdarah pada 7-8 Desember 2014, masih dipelihara oleh Negara Republik Indonesia, malah pangkat dan upah mereka pun dinaikkan oleh Negara dan Pemerintah itu sendiri. Berdasarkan KUHP pasal 338 diatas, Pelaku penembahkan terhadap 4 pelajar SMA di Paniai adalah benar-benar TNI/POLRI, dan mereka diproses hukum. Tetapi, hal ini selalu saja diabaikan.


Dari tragedi dasyat, Paniai Berdarah oleh Negara ini, menggambarkan bahwa, penyerapan Hukum Negara di Papua sedang didiskriminasi, dipilah-pilahkan, serta selalu memihak hanya kepentingan Negara.


Hukum Karma di Hadapan Tuhan  Pada Akhirat


Hukum Karma adalah hukum  yang menyatakan , “siapa yang berbuat dia akan merasakan akibatnya.” Entah kau, Presiden, Menteri, POLRI,TNI, dan siapa saja kita, ingat bahwa, perbuatan kita akan diadili dari ujung kuku sampai ujung rambut. Ketika kita berbuat tindak kejahatan terhadap manusia lain, kita juga akan diperlakukan sama pula diakhirat nanti.


Kesimpulan


Pada hakekatnya, Manusia adalah Makluk social, berakal budi yang diciptakan oleh Sang Pencipta (Allah) untuk saling menjaga dan melestarikan serta menguasai Bumi atas Makluk-makluk Hidup lainnya. Manusia hadir di Bumi untuk saling menyelamatkan, antara saya dengan dia,juga antara kita dengan mereka.


Semua hukum/atura-aturan yang berasal dari Tuhan (disurga) dan dari Manusia (Bumi), supaya untuk selamat. Jadi, tidak perlu ada diskriminasi, pembunuhan, penjajahan dan penindasan karena kepentingan-kepentingan tertentu. Kepentingan yang negative membawa kita ke jurang yang abadi juga sebaliknya. “Hidup Manusia di Akhirat, tidak akan lari dari Hukum Karma.”

Postingan populer dari blog ini

2015 Indonesia Akan Bubar,ini 34 Bendera Gerakan Perjuangan

Kekuatan Militer Indonesia Di Papua Melebihi Orang Asli Papua

Pendoropan Pasuka M iliter Di Papua dari waktu ke waktu semakin meningkat, pendropan militer di papua kebanyakan TNI angkatan darat angkatan laut dan juga kopasus, beberapa hari sebelummya pengiriman militer dalam skala besar di kirim melalui kapal perang , beberapa hari lalu namun baru kemarin   pada tanggal 30 september 2013 sejumlah anggota TNI dikirim melalui pesawat. Bukan hanya itu namun pengiriman pasukan dalam hal ini TNI angkatan darat dikirim melalui kapal pada hari rabu tanggal 02 september 2013 di pelabuhan jayapura.  Tanah Papua kini dikuasai oleh militer baik angkatan organik maupun non organik, sejumlah proyek di papua, seperti pembagunan ruas jalan pembagunan dalam skala besar semua diambil ali oleh militer, bahkan pemerintahan di tanah papua pada umumnya dikontrol oleh militer indonesia . Penempatan sejumlah anggota TNI yang organik maupun non organik,  jumlah anggota TNI di papua melebihi jumlah masyaraka asli papua yang ada di papua, hal ini akan mengganggu fisig…

Budayakan Membuang Sampah Pada Tempatnya

Oleh : Petrus Yatipai


Opini/Suara Penindasan --- Bicara tentang sampah pasti yang ada di benak kita adalah kotor, kumuh, dan menjijikan, memang benar ya. Sampah memang masih menjadi salah satu masalah terbesar dikota-kota besar di Indonesia, salah satu contohnya adalah sampah di ibu kota republic ini. Berbgai upaya penanganan sampah sudah di coba oleh pemerintah namun hasilnya belum saja maksimal.
Sampah merupahkan material sisa yang tidak diinginkan  keterpakaiannya ,dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah yang ada hanya produk-produk yang dihasilakan dan selama proses alam tersebut berlangsug. Untuk mengatasi pembuangaan sampah disembarangan tempat, harus tanyakan diri pribadi seseroang dan  kesadarannya.
Membuang sampah pada tempatnya, adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara rutin dimana pun kita berada, tanpa kenal lelah. Dengan kita melakukan hal seperti ini, maka hidup kita pun akan nyaman . Jadilah teladan bagi orang lain, agar orang lain pun berbuat demi…