Langsung ke konten utama

Memaknai Wafat Kristus : Dibalik Pengorbanan Ada Sejuta Berkat

(Fhoto Prib. P.Yatipai/WN)
Oleh : Petrus Yatipai
Opini, (WP) --- Jangan pernah ragu dan menghitung-hitung tentang berapa besar pengorbanan yang telah saya keluarkan demi menyelamatkan orang lain. Pengorbanan kita berupa, materi, tenaga, dan waktu terhadap orang lain entah itu kepada Orang Tua (Ortu), Orang-orang tetangga rumah kita, bahkan pengorbanan kita kepada mereka yang berbeda latar belakang, Ras,Agama,Suku, dan Budaya pun perlu kita saling menolong dan menyelamatkan dari bencana-bencana yang dihadapinya. Biar orang-orang itu diselamatkan dari ruang penderitaan yang dihadapinya itu.

        Kita cukup berpikir optimis saja, atas pengorbanannya, ,kasih sayang, dan pertolongan kita kepada mereka yang telah kita bangkitkan dari penderitaan-penderitaan itu. Dipandang saja bahwa, pengorbanan bukanlah kerugian, namun awal dibukanya pintu masuk, sejumlah berkat yang melimpah.

        Dikesempatan ini penulis mengusut, Kisah perjalanan Perderitaan Tuha Yesus Kristus yang pernah wafat di Kayu Salib dan dibangkitkan pada hari yang ke-3 (tiga) itu, hanya karena kita Umatnya yang telah berada dan jatuh kedalam Dosa untuk diangkat dan dibangkitkan , supaya selamat dari perbudakan dan belengggu-belenggu dosa. Yesus Kristus hanya seorang diri yang wafat dikayu salib dan kemudian dibangkaitkannya, demi menyelamatkan, sejuta-juta jiwa Umat Manusia di Dunia. Itulah pengorbanan  istimewa yang telah diperjuangkan oleh sang aktivis sejati Putera Allah yang juga adalah Raja kita Umat Manusia untuk kita hidup.

Seharusnya, Kita menolong orang lain tanpa pamrih, imban atau balas budi yang mutlak diharapkan. Tuhan itu, Maha Adil.tidak pernah memihak dan tidak pernah juga menutup mata. Ia selalu melihat dan memantau, ke setiap langkah demi langkah dimana kita menelusuri. Serta itulah cara dia hadir dalam diri kita, untuk saling menyelamatkan dan membebaskan orang lain dari tengah-tengah persoalan melalui tindahkan kita, uluran tangan sampai ketempat akar masalah itu berada.

Pada prinsipnya, manusia adalah makluk social yang diciptakan untuk,saling melayani dan menyelamatkan satu dengan yang lain agar hidup tenteram dan damai.


Pengorbanan kita kepada orang lain bukan menjadi barometer, bukan juga jaminan, bukan juga dengan istilah utang-piutang, melainkan itulah amal kasih dan serta simpati kita untuk saling melihat dan membebaskan satu sama lain,dari ragam pertikaian , dan penderitaan.

Postingan populer dari blog ini

2015 Indonesia Akan Bubar,ini 34 Bendera Gerakan Perjuangan

Kekuatan Militer Indonesia Di Papua Melebihi Orang Asli Papua

Pendoropan Pasuka M iliter Di Papua dari waktu ke waktu semakin meningkat, pendropan militer di papua kebanyakan TNI angkatan darat angkatan laut dan juga kopasus, beberapa hari sebelummya pengiriman militer dalam skala besar di kirim melalui kapal perang , beberapa hari lalu namun baru kemarin   pada tanggal 30 september 2013 sejumlah anggota TNI dikirim melalui pesawat. Bukan hanya itu namun pengiriman pasukan dalam hal ini TNI angkatan darat dikirim melalui kapal pada hari rabu tanggal 02 september 2013 di pelabuhan jayapura.  Tanah Papua kini dikuasai oleh militer baik angkatan organik maupun non organik, sejumlah proyek di papua, seperti pembagunan ruas jalan pembagunan dalam skala besar semua diambil ali oleh militer, bahkan pemerintahan di tanah papua pada umumnya dikontrol oleh militer indonesia . Penempatan sejumlah anggota TNI yang organik maupun non organik,  jumlah anggota TNI di papua melebihi jumlah masyaraka asli papua yang ada di papua, hal ini akan mengganggu fisig…

Akreditasi “B” STIH Manokwari Akan Buka Program S2