Langsung ke konten utama

Kelapa Sawit Bongkar Hutan Papua Pemangku Hak Ulayat Jaga Tanah Adat

Perkebunan kelapa sawit di Papua. Penelitian CIFOR mengindikasikan bahwa kualitas hidup telah meningkat untuk banyak orang di Papua, tetapi setiap perluasan perkebunan perlu memperhitungkan berbagai kebutuhan masyarakat setempat. Agus Adrianto/CIFOR

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.COM—Hadirnya kelapa sawit berdampak negatif terhadap ekonomi, ekologi dan masyarakat di Papua dan Papua Barat. Bersamaan itu, Pertanian kelapa sawit telah meningkatkan kualitas hidup untuk banyak pemangku kepentingan dalam industri ini, tanpa memperhatiakan kepentingan masyarakat setempat. Hal ini membuat masyarakat adat Maybrat kecewa  atas perusahkan hutan yang dilakukan oleh  Perusahan Perkebunan Kelapa sawit.


“Hutan Papua yang di bongkar untuk perusahan perkebunan kelapa sawit. Betapa sedihnya melihat hutan Papua  yang di rusaki dan obrak-abrik oleh perusahan perusak hutan, alias Perusahan Kelapa Sawit. Hati sangat sedih, cucuran air mata pun mengalir ketika melihat hutan dan segala isi flora dan fauna yang hidup di hutan Papua jadi punah,” ujar Tyson Tenau, Masyarakat Adat Maybrat, kepada media ini, Senin, (17/04/2017).

 Ia menjelasakan, tinggal selangkah lagi hutan terbesar nomor dua di Dunia setelah hutan Amazon jadi punah dan berubah menjadi hutan gundul. 

“Pemangku kepentingan di atas tanah Papua yaitu,  Gubernur, Bupati/Walikota dan DPRD di dua Provinsi dan Kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua dan Papua Barat harus sadar dan jeli melihat hal ini. Karena perusahan yang merusak hutan adalah perusahan perkebunan kelapa sawit,” jelasnya.

Bahkan, suatu studi kasus dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR) tentang efek kelapa sawit terhadap ekonomi, ekologi dan masyarakat di Papua Barat melukiskan gambaran yang dingin.

“Di garis depan perluasan perkebunan kelapa sawit, suku Arfak yang merupakan penduduk asli yang tinggal di hutan Provinsi Papua Barat percaya mereka bukan penerima janji kelapa sawit- namun, para pemenang yang sebenarnya sepertinya, yaitu para imigran luar yang menguasai keterampilan dari kebanyakan pekerjaan yang tersedia di berbagai perkebunan kelapa sawit,” tulis Kabar Hutan, Edisi Senin, 6 Apr 2015.

Untuk itu, Tyson Tenau mengajak kepada  pemangku hak ulayat agar jangan cepat terlena untuk menyetujui dan menyerahkan tanah adat anda untuk dijadikan lahan perusahan perkebunan kalapa sawit.

Sebab, lanjut Tenau, Perusahan perkebunan kelapa sawit ini merupakan perusahan perusak hutan nomor satu dunia. “Orang asli Papua anda juga harus sadar tentang hal ini karena kita sedang digiring untuk menuju kehancuran,  anak cucu, dan generasi Papua menjadi punah,” tandasnya.
 
Pewarta : Admin
Sumber  : www.kabarmapegaa.com

Postingan populer dari blog ini

2015 Indonesia Akan Bubar,ini 34 Bendera Gerakan Perjuangan

Kekuatan Militer Indonesia Di Papua Melebihi Orang Asli Papua

Pendoropan Pasuka M iliter Di Papua dari waktu ke waktu semakin meningkat, pendropan militer di papua kebanyakan TNI angkatan darat angkatan laut dan juga kopasus, beberapa hari sebelummya pengiriman militer dalam skala besar di kirim melalui kapal perang , beberapa hari lalu namun baru kemarin   pada tanggal 30 september 2013 sejumlah anggota TNI dikirim melalui pesawat. Bukan hanya itu namun pengiriman pasukan dalam hal ini TNI angkatan darat dikirim melalui kapal pada hari rabu tanggal 02 september 2013 di pelabuhan jayapura.  Tanah Papua kini dikuasai oleh militer baik angkatan organik maupun non organik, sejumlah proyek di papua, seperti pembagunan ruas jalan pembagunan dalam skala besar semua diambil ali oleh militer, bahkan pemerintahan di tanah papua pada umumnya dikontrol oleh militer indonesia . Penempatan sejumlah anggota TNI yang organik maupun non organik,  jumlah anggota TNI di papua melebihi jumlah masyaraka asli papua yang ada di papua, hal ini akan mengganggu fisig…

Budayakan Membuang Sampah Pada Tempatnya

Oleh : Petrus Yatipai


Opini/Suara Penindasan --- Bicara tentang sampah pasti yang ada di benak kita adalah kotor, kumuh, dan menjijikan, memang benar ya. Sampah memang masih menjadi salah satu masalah terbesar dikota-kota besar di Indonesia, salah satu contohnya adalah sampah di ibu kota republic ini. Berbgai upaya penanganan sampah sudah di coba oleh pemerintah namun hasilnya belum saja maksimal.
Sampah merupahkan material sisa yang tidak diinginkan  keterpakaiannya ,dalam proses-proses alam sebenarnya tidak ada konsep sampah yang ada hanya produk-produk yang dihasilakan dan selama proses alam tersebut berlangsug. Untuk mengatasi pembuangaan sampah disembarangan tempat, harus tanyakan diri pribadi seseroang dan  kesadarannya.
Membuang sampah pada tempatnya, adalah sesuatu yang harus kita lakukan secara rutin dimana pun kita berada, tanpa kenal lelah. Dengan kita melakukan hal seperti ini, maka hidup kita pun akan nyaman . Jadilah teladan bagi orang lain, agar orang lain pun berbuat demi…