Hari liburku Di Kota Emas - WEYAPO NEWS

Breaking

22 Agu 2015

Hari liburku Di Kota Emas



(Wajah Kota Timika, P.Yatipai/SP)


       Artikel/SP, Kini kembali menginjakan kakinya lagi, dikota jejak-ku Timika Papua. pertama kali menebaskan kakinya dinegeri Emas pada senin, (12/08/015) pada pukul 11:41 WPB, melalui Bandara Udara Moses Kilangin Timika Papua. Hari pertamaku dikota ini, Saya telah mengisi dengan berbagai aktivitas.
        Ketika aku memasuki dirumahnya saudari perempuan “DY” pada Rabu (12/08/014)  pukul 12:15 WPB  di Jl. Kebun Siri Timika Papua, didalam rumahnya itu aku telah melihat Omku Melianus Wouwiyai Kudiai, yang lagi asik bermain permain Mobil. Omku “MWK” kemudian melihat aku dan  datang memeluknya. Saat itu pun air mata menjadi pembicaranya.
Puji syukur Tuhan, dikesempatan ini, aku dapat melihat Omku “MWK” dalam kondisi yang sehat. Usianya pun sudah besar, pintar sekali berbicara. Dikesempatan ini juga dia dapat membicarakan semua masalah yang dialaminya selama ini, bersama teman-temannya, Bapak, Ibu dan sanak keluarganya dinegeri Emas ini. juga apa yang aku sampaikan pun dapat dimengertinya. Dia Sangat jauh berbeda dari 1 (satu) yang telah silam . Terima kasih Tuhan atas karyamu itu. 

      Hari-hari liburku dikota jejak Timika ini, dijumpai dengan berbagai macam kasus. Yang pada akhirnya dapat merugikan banyak orang. Namun, saya tidak tahu , apakah masyarakat dikota ini sedang merasakan situasi ini.  Saya hanya beberapa hari dikota emas ini, tetapi saya dapat melihat dan bisa merasakan situasi yang ada. Begitu banyak penindasan yang sedang penjajah pakai untuk merusak dan menjatuhkan nama baik dan harga diri orang Papua Melanesia. Kita jaga hal-hal ini bersama-sama, jangan mudah terprovokasi dengan situasi yang ada. Perlu tanamkan rasa kepercayaan diri yang tinggi dalam kehidupanya. Hitam itu tetap Hitam, dan Keriting itu tetap Keriting sampai kapan pun. Itulah anugerah yang paling mulia buat anak-anak Papua Melanesia oleh Sang Pencipta. Berikut ini adalah kasus-kasus yang telah saya menjumpainya dalam beberapa hari dikota ini.

Kejadian I

            Setibanya  dengan pesawat Garuda Indonesia di Bandara Udara Moses Kilangin Timika Papua, banyak hal yang telah aku melihat langsung dan merasakannya. Kami ditumpangi dari pesawat itu, Bus Dinas melambai-lambai datang dari arah timur Bandara itu, kemudian berhenti didepan kita lalu dipersilahkan untuk masuk didalam Bus itu. Apa yang terjadi didalam Bus Dinas itu? karena banyaknya orang  maka, ada sebagian orang yang berdiri , ada pula yang duduk sesuai tempat duduknya yang telah disediakannya itu. sangat aneh yang pernah terjadi didalam Bus itu adalah, seorang Mama Papua yang dengan anak perempuannya yang berumur 6 tahun itu, berusaha naik terlebih dahulu didalam Bus itu untuk mengambil tempat duduknya. Akhirnya Mama itu pun telah mendapat tempat duduknya, lalu duduk bersama anak perempuannya yang berumur 6 tahun itu. setelah 1 menit kemudian, seorang laki-laki berambut panjang berkulit putih, dengan celana levis hitam panjang  ditangannya memegang 1 buah AT/ HP Setelit mendatangi mama itu, kemudian memindahkannya mama itu dari tempat duduknya itu.dan digantikannya dengan seorang Bapak yang berambut lurus dan berkulit putih berpakaian kemeja Hitam Putih. diSaat itu juga mama tersebut tidak pernah dikeluarkan sekata pun dari mulutnya. Mama bersama anaknya perempuan tersebut akhirnya berdiri saja, sampai kami turun dari Bus itu. saya menduga mama itu, tidak berani berbicara karena: 1). Punya berbelas kasian yang tinggi kepada orang lain, 2). Takutnya 7 orang TNI dengan berpakaian dinas lengkap yang bersama-sama dengan kita didalam Bus disaat itu, 3). Karena Malu untuk berbicara. Karena Situasi disaat itu, yang tidak mendukung maka, aku hanya cukup melihat kejadian itu, dan aku hanya berkata didalam hati, inilah cara BIN melakukan tindak kejahatan terhadap Orang Papua Melanesia selama ini.  Kejadian ini terjadi pada Rabu, (12/08/2015) pukul 11: 41 WPB, Di Bandara Udara Moses Kilangin Timika Papua.

Kejadian II

            Pada hari yang sama juga yaitu, Rabu (12/08/2015) pukul 02:25 siang WPB, setelah aku pulang dari pasar lama dengan menggunakan ojek, menuju Warkop Mandiri Jl.Bilibis Timika Papua. ketika setibanya di Lampu Merah perempatan  Depan Bank Papua, ada seorang lelaki tua berbadan tinggi berambut putih keriting berjenggot panjang putih dengan berumur kira-kira 60-an tahun lamanya. Dia duduk diaspal dan meminta pertolongannya, berupa uang dengan mengarahkan kedua tangannya, kearah kendaraan yang sedang melewati disekitar itu. hal-hal ini mulai terjadi diseluruh tanahPapua karena kita orang papua pada awalnya dimanja oleh orang-orang pendatang amber. Akhirnya tradisi-tradisi kita dulu yang ingin bertani, ingin Nelayan, ingin Beternak, ingin Berburu, dan lain sebagainya itu lupah, karena kita orang papua Melanesia, ditipuh dan ditipuh melalui barang –barang modern yang kurang bermartabat itu. dampak dari semua itu apa? Minta-minta dijalan, pencuri, perampok, penonton, iri hati, mencabut nyawa orang demi menjamin kebutuhan hidupnya. Mari kita orang papua Melanesia menjaga hal itu bersama-sama, agar kedepannya tidak terulang lagi dalam kehidupan kita di negeri West Papua ini.

Kejadian III

            Pada hari Jumat, (14/08/2015) pukul 07:28malam WPB, aku bersama kakak perempuan sulung dengan anaknya Melianus, tahan 2 ojek didepan lampu merah Kebun Siri dengan tujuan menuju ke tempat duka, tepat di Jl. Sp2 jalur 4 kanan dalam. Ojek yang pertama kita tahan tersebut aku dan omku melianus kita berdua naik, kemudian ojek yang kedua adalah kakak perempuan. Kita star menuju ke tempat tujuan dan setibanya kita disana, harga transportasinya ojek kedua memintanya Rp. 20.000,- lalu ojek yang pertama mengatakan, kau itu sembarang aja, harga pass dari Timika ke Sp2 itu Rp. 15.000,00,- katanya, dengan suara yang keras. Mas ojek yang kedua, setelah dapat tegurannya dari mas ojek yang pertama, dia star motornya dan jalan. Saat itu tidak pernah keluar satu kata pun dari mulut mas ojeknya itu.

Kejadian IV

Ada 3 orang Bapak dengan  bermiras dari arah Koprapoka menuju ke pasar lama mengikuti Jl. Raya Koprapoka itu. mereka bertiga adalah Orang Asli Papua  asal Suku Kamoro Mimika Papua. Ketika mereka dalam perjalannya itu, tiba-tiba mereka mulai palang memalang setiap kendaraan yang melewati diare itu. 5 menit kemudian Polisi muncul dengan mobil tahanan, lalu ketiga oknum telah dibawah ke Polsek Kwamki Baru pada (sabtu,15/08/015) pukul 07:25 WPB. Saat itu juga orang mulai padat. Kemudian seorang Ibu yang namanya,  (PO) Warga Koprapoka itu mengatakan, Bapak bertiga itu, pagi-pagi tadi mereka keluar cari borongan, kemudian hasilnya borongannya itu, mereka dikasih minuman keras dua-dua botol ditambah dengan Uang Rp. 150.000,00,- per orang , kata Ibu PO saat ditempat kejadian perkara. Ketika saya berbincang-bincang dengan Ibu itu mengatakan, Mereka menggali sumur dijalan Pattimura situ, sama orang pendatang, katanya.
Itulah cara-cara yang sedang berlangsung dibumi cendewasih sejak Papua diintegrasi kedalam Negara Republic Indonesia. Sangat Berhati-hati dalam setiap langkah hidup kita agar kita tidak mudah tertipu oleh orang-orang yang kurang bertanggung itu. kasus-kasus itu menggambarkan ketidakadilan yang sedang penjajah pakai diatas tanah Papua ini.